PELATIHAN BUDIDAYA ULAT MAGOT SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF

Kita ketahui bersama bahwa hampir di semua wilayah perkotaan/pemukiman, permasalahan utama dari Lingkungan yakni mengenai sampah khususnya sampah dari rumah tangga. Bisa kita bayangkan seberapa banyak volume sampah yang dibuang/dihasilkan setiap harinya, belum lagi kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang sudah overcapacity. Tentu hal tersebut akan menjadi permasalahan serius bagi lingkungan dan kesehatan di wilayah. Pemerintah Kota Yogyakarta sejauh ini telah dan terus berupaya untuk menangani permasalahan sampah, salah satunya dengan menggalakkan kelompok/komunitas "Bank Sampah" dimana dapat diperoleh manfaatnya dari pemilahan  jenis sampahnya yang dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarkat. Namun kiranya dirasa belum cukup untuk mengatasi volume sampah yang melebihi kapasitas di TPA. Maka, Pemerintah Kota Yogyakarta baru-baru ini melakukan program inovasi untuk menangani permasalahan khususnya sampah rumah tangga. Untuk itu melalui dana APBD 2021 ini Kelurahan Ngupasan mengadakan pelatihan budidaya magot pada hari Kamis 18 Maret 2021 di Kampung Ngupasan dan 19 Maret 2021di Kampung Ratmakan yang didikuti masing-masing wilayah 10 orang dimana pelaksanaannya tetap menerapkan protokol kesehatan. Dalam sambutannya, Lurah Ngupasan Drs. Didik Agus Mursihanta menyampaikan bahwa pelatihan budidaya magot ini tergolong pelatihan baru yang unik namun dapat menghasilkan usaha ekonomi produktif sebagai tambahan penghasilan bagi warga. Beliau juga berpesan bahwa para peserta pelatihan untuk memantapkan niat, telaten dan tidak jijik/takut, karena wujud magot ini berupa ulat. Pada kesempatan pelatihan ini, selaku narasumber yakni Bp. Kristanto Darmawan dalam paparannya menjelaskan bahwa "magot" ini adalah larva yang dihasilkan dari lalat hitam (Black Soldier Fly/BSF) yang TIDAK MEMBAWA bibit penyakit seperti halnya lalat hijau pada umumnya dalam pengembangbiakan magot ini juga perlakuannya khusus mulai dari pengembangbiakan, pemisahan telur, penetasan hingga pembesaran magot. Ditambahkan pak Kris bahwa pakan untuk ulat magot ini sangat mudah, yakni dengan memanfaatkan sampah organik seperti sayuran, buah-buahan dan sisa makanan. Lebih lanjut pak Kris menambahkan bahwa manfaat hasil budidaya magot ini bisa digunakan sebagai pakan burung, ternak unggas dan pakan alternatif ikan lele, bahkan pupa/cangkang dari lalat magot ini bisa dijadikan pupuk organik. Untuk itu sangat diharapkan kepada para peserta, untuk serius, sabar dan telaten dalam budidaya magot ini yang sebenarnya menghasilkan nilai ekonomis yang menjanjikan bagi masyarakat