WARGA KELURAHAN NGUPASAN IKUTI

Kota Yogyakarta selain berpredikat sebagai kota pendidikan, kita kenal juga sebagai kota wisata dan juga kota budaya yang menyimpan segudang nilai historis, peninggalan cagar budaya dan tata nilai luhur yang cukup dikenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Bukan sesuatu yang berlebihan jika Yogyakarta ditetapkan  oleh pemerintah pusat sebagai daerah istimewa. Dengan berbagai potensi dan nilai luhur yang dimiliki Yogyakarta maka Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudyan) DIY belum lama ini mengusulkan sebagai "Yogyakarta Warisan Budaya" ke badan UNESCO. Untuk mewujudkan dan mendukung hal tersebut, maka pada Senin (30/05/2022) Dinas Kebudayaan DIY menggelar acara "Sarasehan Penyiapan Yogyakarta Menuju Warisan Budaya Dunia" bagi warga Kelurahan Ngupasan, khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan zonasi "Sumbu Filosofi" yakni, kampung Ngupasan, kampung Ketandan dan kampung Kauman. 

Dalam kesempatan sosialisasi ini, Lurah Ngupasan Drs. Didik Agus M dalam sambutannya berpesan kepada warga Ngupasan untuk belajar memahami akan posisi wilayah kampung yang masuk dalam kawasan sumbu filosofi dengan maksud kedepan masyarakat diharapakan menjadi subyek sekaligus obyek dalam pengejowantahan tata nilai sangkan paraning dumadi dengan cara ikut menjaga dan melestarikan cagar budaya baik yang tangible ( benda cagar budaya) maupun yang bersifat intangible ( adat istiadat, tata nilai), sehingga personifikasi artefak sumbu filosofi tersebut nantinya dapat benar-benar terwujud dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita.

Dalam kesempatan sosialisasi, menghadirkan langsung narasumber dari tokoh masyarakat Kelurahan Ngupasan, yang sekaligus adalah tim pokjanis sumbu filosofis yang disampaikan oleh Mantri Pamong Praja Kemantren Gondomanan dan Bp. Julianto yang mengupas secara gamblang tentang makna filosofis "Sumbu Filosofis" dan tata nilai "Sangkan Paraning Dumadi". Dalam paparannya dijelaskan, bahwa Sumbu Filosofis adalah suatu garis artefak yang terletak diantara Tugu-Kraton-Panggung Krapyak, yang posisinya lurus terhubung satu sama lain dan tak bisa dipisahkan. Sedangkan tata nilai "Sangkan Paraning Dumadi", adalah mengandung makna tentang perjalanan hidup manusia sejak dari lahir, tumbuh dan kembali ke pangkuan yang Maha Kuasa. 

Kepala Seksi Balai Pengelola Kawasan Sumbu Filosofi (BKSF) yang diwakilih oleh Ka. Sie Edukasi dan Monev Dinas Kebudayaan DIY, M. Qomaru Hadi, S.STP menyampaikan bahwa konsep program "Sumbu Filosofis ini telah diajukan/didaftarkan ke UNESCO sejak 2017 lalu dan saat ini telah masuk dalam "tentative list".  Dalam proses yang sedang berjalan ini masyarakat diharapkan mengetahui, memahami dan mendukung adanya program dan kebijakan Dinas Kebudayaan DIY terkait sumbu filosofi sehingga nantinya saat kunjungan visitasi dari UNESCO kita (masyarakat Yogyakarta) dapat meraih predikat sebagai "The City of Philosofy dan Warisan Budaya Dunia" sehingga kedepan manfaatnya dapat dirasakan oleh warga masyarkat Ngupasan khususnya dan warga Kota Yogyakarta secara umum.