KELURAHAN NGUPASAN GELAR WORKSHOP SEJARAH DAN BUDAYA KAMPUNG KETANDAN

Ketandan..Salah satu nama kampung yang berada di wilayah administratif Kelurahan Ngupasan yang lokasinya sangat strategis yakni di sisi timur JL Malioboro. Mengingat penting dan menariknya sejarah Kampung Ketandan, maka pada hari Senin (15/05/2023) Kelurahan Ngupasan bersama Pokdarwis Ngupasan menggelar acara "Workshop Sejarah dan Budaya Kampung Ketandan" di salah satu situs cagar budaya yakni rumah budaya Ketandan. Dalam kesempatan Sambutannya, Lurah Ngupasan Drs. Didik Agus Mursihanta menyampaikan bahwa Kampung Ketandan ini merupakan kawasan perkampungan pecinan (warga Tionghoa) di Yogyakarta, yang menyimpan cerita sejarah dan potensi yang perlu ketahui & pahami bersama, sehingga dapat menambah khasanah kekayaan budaya kita.

Hadir sebagai narasumber workshop tersebut yakni Bp. Tjundaka Prabawa yang notabene warga/penduduk asli Ketandan. Pak Tjun panggilan akrabnya menyampaikan bahwa asal mula berdirinya Kampung Ketandan berkaitan dengan keberadaan etnis Tionghoa di Yogyakarta yakni diperkirakan sejak abad ke-19 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII Raja Kraton Yogyakarta. Ketandan sendiri berasal dari kata Tondo yang berarti ungkapan bagi pejabat penarik pajak atau pejabat Tondo, yang oleh Sultan diberi wewenang langsung kepada etnis Tionghoa. Dari situ, etnis Tionghoa memegang peranan penting dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan Yogyakarta. Keberadaan Kampung Ketandan tidak lepas dari salah satu tokoh bernama Tan Jin Sing (1760-1831) ia adalah seorang Kapiten Tionghoa, yang merupakan putra dari seorang bangsawan Jawa, dimana ayahnya adalah Demang Kalibeber di Wonosobo, sedangkan ibunya masih keturunan Sultan Amangkurat dari Mataram, yang bernama Raden Ayu Patrawijaya.

Tan Jin Sing tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan pandai. Ia mampu menguasai 3 bahasa, yakni Hokkien, Mandarin, dan Inggris. Ketika beranjak dewasa, ia pun berteman dekat dengan Raffles, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu. Kemudian Tan Jin Sing menjadi penghubung antara Sri Sultan Hamengku Buwono III dengan Gubernur Jenderal Raffles. Melansir dari Historia, karena jasanya itu, Sri Sultan HB III mengangkatnya sebagai bupati dan diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, Kampung Ketandan ditetapkan sebagai kawasan Pecinan. Di kawasan ini terdapat banyak bangunan berarsitektur Tionghoa dan rencananya akan dikembangkan lebih lanjut.

Sekarang, kawasan Ketandan banyak dihuni oleh warga Tionghoa yang mayoritas menjadi pedagang. Melansir dari laman visitingjogja.com, menjelang tahun 1950-an banyak warga Tionghoa yang menjalankan usaha toko emas. Sebelum itu, mereka membuka usaha toko kelontong, toko kebutuhan pokok, dan toko jamu obat tradisional. Sebagai kawasan pecinan di Yogyakarta, Kampung Ketandan menawarkan daya tarik tersendiri. Terdapat banyak hal yang menarik yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah berfoto pada bangunan dengan gaya arsitektur dari tiga kebudayaan, yakni Tionghoa, Jawa, dan kolonial. Tjundaka berharap, kedepannya Ketandan yang memiliki sejarah, budaya dan potensi yang khas ini dapat dikembangkan dan dikelola bersama antara warga masyarakat Ketandan pemerintah maupun pihak yang berkompeten sehingga kawasan Ketandan dapat tetap lestari dan dapat menjadi potensi pariwisata di Kelurahan Ngupasan.